
KARAWANG, KOMPAS.com – Toyota Indonesia terus menunjukkan komitmennya untuk mendukung program pemerintah dalam mencapai target netralitas karbon atau Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Salah satunya melalui peluncuran Hydrogen Refueling Station (HRS) yang terletak di xEV Center, Karawang, Jawa Barat. Fasilitas pengisian bahan bakar hidrogen ini dirancang khusus untuk mengisi ulang kendaraan yang menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar utama, seperti forklift, mobil, dan truk. Teknologi ini tergolong dalam kategori grey hydrogen.
“Setelah peluncuran HRS pertama di Senayan oleh PT Pertamina (Persero) tahun lalu, kini Toyota menghadirkan fasilitas serupa. Ini adalah HRS pertama di Indonesia dengan tekanan atau bar 700,” ungkap Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, di Karawang pada Selasa (11/2/2025).
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Mahardi Tunggul Wicaksono, berharap inisiatif dari Toyota ini dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. “Indonesia telah menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89% pada tahun 2030 dengan kemampuan sendiri dan 43% dengan dukungan internasional, sebagaimana tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Untuk mencapai target ini, industri otomotif memainkan peran yang sangat penting, dan transisi ini tidaklah mudah. Oleh karena itu, peluncuran HRS ini adalah langkah yang signifikan dalam mendukung ekonomi industri hijau Indonesia,” ujar Mahardi.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, menambahkan bahwa peluncuran HRS ini merupakan hasil kolaborasi antara Toyota, pemerintah Indonesia, PLN, BRIN, serta pihak akademia selama satu tahun terakhir.
Toyota juga telah melakukan kunjungan ke beberapa negara, seperti Inggris, Jepang, Thailand, China, Malaysia, dan Australia, untuk mempelajari penerapan HRS, bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan Pertamina. “Langkah ini penting bagi Toyota dalam memperkenalkan solusi energi yang lebih berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang kami hadirkan dapat berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Ini adalah bagian dari multipathways yang kami terapkan,” ungkap Nandi.
Untuk klasifikasi hidrogen, hal ini bergantung pada cara teknologi diproduksi. Ke depan, Toyota Indonesia berencana untuk beralih ke green hydrogen, yang diperoleh melalui proses elektrolisis air menggunakan energi terbarukan. Proses ini akan dilakukan secara bertahap karena green hydrogen memerlukan infrastruktur dan teknologi yang lebih maju serta investasi yang besar.
Dengan transisi ini, Toyota tidak hanya mendukung upaya keberlanjutan dan dekarbonisasi, tetapi juga berperan aktif dalam memajukan solusi energi bersih di industri manufaktur. “Saat ini, hidrogen digunakan sebagai bahan bakar untuk mobil Mirai dan forklift. Ke depannya, TMMIN berharap bisa memproduksi hidrogen sendiri sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Nandi. Jika ekosistem hidrogen dapat dibangun dengan baik, maka rantai pasokan hidrogen dari hulu hingga hilir akan berjalan tanpa menghasilkan emisi karbon. Ini akan mempercepat transisi menuju energi rendah karbon, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menciptakan peluang ekonomi baru yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
SUMBER. OTOMOTIF.KOMPAS.COM






